AKu serasa disentakkan setelah membaca cerita pendek yang dikirimkan temanku melalui e-mailku.”Lupa makan permen” Cerita mengenai dua orang anak kecil yang bernama bob dan bib menemukan sebuah tempat yang dipenuhi oleh permen. anak pertama yang bernama Bob begitu gembira menemukan tempat tersebut, dia mengumpulkan semua permen yang ada ditempat tersebut dan memasukkan semua permen-permen tersebut kedalam tasnya tanpa berniat mencicipinya. dia sudah sangat senang dengan mengumpulkan semua permen yang ada. Namun berbeda dengan bib, dia tidak mengumpulkan permen-permen tersebut, tapi dia menikmati setiap permen yang ditemuinya.
Lalu, dimana letak ceritanya? Klimaks cerita terletak pada akhir perjalanan
mereka. Dari akhir cerita inilah aku mulai menyadari tentang hidup….
Setelah keluar dari tempat yang dipenuhi permen tersebut, penjaga pintu yang
menjaga tempat tersebut bertanya pada Bob “apakah kamu mencicipi permen rasa strawberry? Karena permen itulah yang menjadi favorit ditempat ini”
Bob tertegun, dia baru menyadari kalau dia tak mencicipi satu pun permen-permen yang dikumpulkannya tersebut. Dia hanya sibuk mengumpulkan permen-permen yang dilihatnya. Berbeda dengan bib yang mencicipi permen yang ada ditempat tersebut. Bahkan dia sempat membagi permen itu kepada seorang kakek tua dan mendengarkan cerita sambil memandangi pemandangan yang sangat indah.
Lalu mana bagian menariknya?
Coba perhatikan kembali, anak pertama yang terlalu terobsesi mengumpulkan
permen menyadari kesalahannya yang tidak mencicipi permen yang begitu banyak padahal seharusnya di tak perlu terburu-buru mengumpulkan permen-permen tersebut, karena sebenarnya tak ada yang mengharuskan dia untuk keluar secepatnya dari tempat itu. Dia bahkan tidak bisa merasakan permen mana yang ter enak ditempat itu, karena dia terlalu fokus mengumpulkan dan mengumpulkan permen-permen tersebut.
Sebaliknya Bib, yang tidak terlalu terburu-buru dan terobsesi mengumpulkan
permen-permen tersebut mendapatkan pengalaman berharga di tempat tersebut, cerita dari kakek tua, pemandangan yang indah dan menikmati rasa permen dan membandingkan permen-permen tersebut.
Kembali pada cerita tentang hidup.
Dalam hidup kita manusia ada yang type sama dengan Bob, manusia yang hanya
terpaku pada tujuan hidup kita tanpa menikmati arti dari hidup itu sendiri.
Kita lupa menikmati hal-hal yang indah dalam hidup kita, bahkan kita lupa
mencicipi manisnya permen kehidupan. Namun kalau kita lihat lagi tujuan hidup manusia, apa benar tujuan yang kita kejar tersebut merupakan tujuan yang benar- benar kita inginkan dalam hidup kita? Apa benar tujuan hidup yang akan kita tuju merupakan tujuan yang ideal?
Ok, lets see… banyak kita beranggapan bahwa menjadi seorang yang sukses
adalah merupakan tujuan dalam hidup, sukses dalam karir, sukses dalam berumah tangga bahkan sukses yang kita inginkan tersebut lebih banyak berpatokan pada sukses secara lahiriah saja.
Namun apabila kita meraih sukses dalam artian sukses yang telah terbentuk dalam fikiran kita, kita akan bahagia? Tak dapat dipungkiri bahwa banyak diantara kita manusia ini telah meraih sukses dalam artian materi maupun lahiriah akan tetapi mereka tidak merasakan kepuasan dalam meraih sukses tersebut bahkan lebih terobsesi lagi untuk meraih kesuksesan yang lainnya.
So, sebenarnya, sukses yang dimaksud adalah….kesuksesan seperti yang didapat kan Bib, dia sukses merasakan manisnya permen, dia sukses mendapatkan kesenangan berbagi, dan dia sukses mendapatkan pelajaran dari orang lain.
Jika cerita ini dikaitkan dengan hidupku, aku mulai merasakan kebenarannya.
Selama ini aku begitu terobsesi untuk mengejar yang namanya kata sukses dalam
artian dan pandangan manusia secara umum, terobsesi sukses dalam pendidikan, terobses sukses dalam pergaulan, tapi entah kenapa ketika aku mencapai kesuksesan tersebut aku tidak merasakan rasa puas itu, malah aku menjadi lebih terobsesi lagi untuk mengejar kata sukses yang dimaksud oleh orang lain. Kesuksesan yang aku kejar selama ini salah satunya kesuksesan dalam berumah tangga. Aku bahkan merasa takut untuk menghadapi umurku yang sekarang. Aku takut menghadapi bahwa umurku tak lagi belia, aku sudah beranjak pada umur yang bisa dikatakan telah matang untuk menjalani hidup berumah tangga bagi seorang wanita. Aku bahkan larut dalam ketakutanku. Aku berharap bisa menghentikan waktu dan memulai lagi perjalanan hidupku dari awal. Tapi aku tak dapat memungkiri bahwa sang waktu tak pernah setia menunggu kita, waktu terus berjalan, namun aku semakin terpuruk dalam penyesalan-penyesalan karena ketidak mampuanku dalam meraih sukses yang dimaksud.
Sampai aku mendapatkan email dari temanku ini. Aku mulai membuka lagi sedikit demi sedikit lembaran hidup yang telah aku lalui selama 25 tahun ini. Aku bertanya pada diriku, apa benar aku menginginkan untuk menikah diumurku yang sekarang? Apa aku sudah siap untuk mengabdikan hidupku pada orang yang akan menjadi imam dan petunjuk jalan-ku kepada keridhaan-Nya? Apa aku sudah siap untuk tidak mengedepankan keegoisanku dan mendahulukan kepentingan imam-ku?
Ternyata hatiku berkata tidak…aku belum siap. Karena aku tau bahwa hidup
berumah tangga tak selalu seindah apa yang aku bayangkan selama ini. Banyak
yang harus ku korbankan, dan aku belum siap…Apa aku egois? Apa aku terlalu
egois karena terlalu mementingkan diriku? sisi hatiku yang lain berkata tidak..
Aku tidak egois, karena aku juga tidak boleh mengorbankan diriku. Bagaimana
aku akan bisa membahagiakan orang lain kalau diriku sendiri tidak merasakan
kebahagiaan itu? Bagaimana mungkin aku menghadirkan sesuatu yang aku sendiri tak pernah merasakannya….
Sekarang aku menyadari bahwa aku tak perlu terburu-buru mengejar tujuan hidup yang sebenarnya bukan tujuan yang aku inginkan. Ada baiknya aku berhenti sejenak dalam perjalananku, menikmati pemandangan yang mengiringi perjalananku, tanpa melupakan tujuanku. Memang orang mengatakan hidup itu singkat, oleh karena itulah kita harus menikmati waktu yang terbatas ini bukan untuk terburu- buru mengejar tujuan hidup, tapi menikmati setiap detik dalam hidup kita.
Biar tak ada lagi penyesalan karena aku tak mencoba manisnya permen kehidupan. Hidup akan lebih bermakna kalau kita menikmati detailnya kehidupan kita. Bukankah itu yang dikatakan bahagia? Dalam kebahagiaan tak ada kata menyesal…dan aku tak mau menyesali hidupku kelak…aku ingin menikmati hidupku.
Terimakasih teman, karena sedikit cerita yang kau berikan telah membuka hatiku dalam memaknai hidupku. Terimakasih untuk mengajarkan aku untuk mencari makna bahagia dalam hidupku, terima kasih karena aku telah dapat berdamai dengan diri ku, tak lagi menyesali umur yang telah diberikan Tuhan untuk ku.